| Index |

Peringatan kepada Robbie T.
Cimahi 1945
Ia hanya berumur empat belas tahun
pada waktu ia mati karena kelaparan
dalam kamp tawanan Jepang.
Bagaimana ia menangis memanggil ibunya,
ibunya yang begitu jauh dari dirinya.
Sebuah gerobak bergerak jalan
yang memanggul tubuh kurus ke kuburan;
diatas gerobak, tubuh itu begitu kecil,
terbungkus oleh tikar.
Upacara penguburan:
dua orang laki-laki dewasa , satu orang anak laki-laki
dan
satu orang Jepang –
hanya
gemerencing roda
yang
mengusik kesunyian dalam perjalanan.
Kami menggali lobang
–
rupa-rupanya tidak terharu –
dan kami
letakkan tubuhnya didalam
di tanah yang
subur
disuatu
tempat di Priangan.
Cimahi 1995
Sekali lagi aku jalan di jalanan
dari kamp ke
kuburan
hari masih sangat
pagi
kabutpun baru mulai
tampak
Ingatan jatuh
kedalam pikiran.
Di sebuah palang tertulis namanya
di tanah perkuburan di
Leuwigajah
hanya itu yang tersisa.
Sambil menaruh bunga
kebawah
aku
selalu masih dengar ia menangis
![]()
Terjemahan
Bahasa Indonesia oleh George Pantow.
Ik
heb die begravenissen gezien in Cimahi, 1945: De doden, eerst in kisten dan
later in tikars, op fourrage-wagens getrokken door geraamtes. Het was zo
treurig. Ik kan huilen. Ik was zelf dertien jaar oud.
Pembaca
yang terhormat,
Disini
Anda berada di halaman kelompok kerja "Gastdocenten" (dosen tamu)
mengenai masa Perang Dunia Kedua di Asia Tenggara.
Dalam website ini terdapat
keterangan dan pernyataan mengenai peristiwa perang saat itu.
Yang tentunya rakyat Belanda
tidak mengetahui banyak mengenai peristiwa tersebut.
Di antara para anggota "Gastdocenten" adalah juga terdapat ahli-ahli
dan saksi-saksi mata yang berhubungan dengan kejadian-kejadian pada saat itu
secara langsung.
Salam
dan hormat kami